Thursday, July 12, 2007 |
BUDAK
|
Yang namanya budak Tetaplah budak: Rendah!
Meski dikenakan pada badannya Pakaian kebesaran sebesar raja Jika ia budak: Tetaplah rendah!
Bukan persoalan siapa Atau apa motifnya Tapi engkau membudak: Itulah rendah!
Kau rendahkan dirimu Karenanya kaurendahkan aku Begitupun telah kaurendahkan tuhanmu.
  |
|
|
|
MASAKU
|
Hampir dipastikan Masaku telah habis di sana Orang-orang tak lagi mengenaliku Yang dulu begitu cantik menghunus keberanian
Dan di pundakku terlihat lebam Sebiru hari-hari yang malam Dan orang-orang mengacuhkannya Seperti udara kelam yang menikam
Sejurus didekapnya aku Lalu ku mati pelan-pelan
Malang, 7 agust 2004
  |
|
|
|
PUTING BELIUNG
|
Selembar keberanian gugur di medan perang Bersamaan dengan angin puting beliung
Irama monoton Kembali menghentak-hentak Seperti hujan batu sepanjang tahun
Dan kuselipkan rinduku pada kepongahan Untuk menghadang angin puting beliung Hingga akan kuhujani Hari-hari di sepanjang tahun Dengan nyanyian peperangan Yang elok dan agung
Malang, 7 agust 2004
  |
|
|
|
KAKIKU TERPAKU
|
Aku berjalan Mengendarai sepotong jarum jam Detik demi detik aku lewati Tanpa aku pernah mampu menghentikan geraknya Atau melompat mengacuhkannya; Karena turun dari jok itu Adalah kematian bagiku
Tak tahu … Tiba-tiba saja aku sudah terduduk di sini Ketika seorang nenek renta Dengan tertatih-tatih menghampiriku: “Pulanglah, hari telah beranjak siang …”
Aku hanya bisa terdiam Sambil memandang sang nenek itu berlalu; Kakiku seperti terpaku!
Aku bermain di bebiruan hari ini Memutar-mutar bola mimpi Dalam kegersangan pikiran Seorang kakek Dengan tatap mata yang dalam ia bertutur kepadaku: “Anak muda, pulanglah. Hari telah menjadi siang!”
Aku hanya bisa terdiam Sambil memandang sang kakek itu berlalu: Kakiku seperti terpaku
Kembali aku bermain Memutar-mutar bola mimpi Kali ini … Dengan seikat harapan Ketika tiba-tiba berdiri di depan hidungku Seorang muda perkasa Yang dengan mata merah melotot Ia menghardikku: “Pulang!! Hari telah menjadi siang! Tidakkah kau lihat api Yang menjalari dapur rumahmu Tidakkah engkau dengar derai tawa Yang menindih derai isak tangis Tidakkah engkau cium Bau busuk bangkai dalam nafas kamarmu Tidakkah engkau rasakan kepedihan itu Memasuki setiap ruang-ruang sempit Kesadaranmu.
Segerahlah engkau pulang Sebelum sang matahari Benar-benar enggan menunggumu Jangan biarkan saudara-saudaramu itu Menjelma dewa-dewa Berdiri angkuh di balik tembok-tembok istana Yang suaranya menggaung dari menara Sampai di padas-padas Ngarai dan samudra Dan kaudapati; setiiap waktu mereka mengincar nyawamu. Nasibmu. Bangunlah! Pulanglah!”
Aku hanya bisa terdiam Sambil memandang sang perkasa itu berlalu: Kakiku seperti terpaku!
[ Malang, 5 Mei 1999 ]
  |
|
|
|
BERITA HARI INI
|
Berita hari ini: Kudengar matahari enggan terbit Sebab bulan tampaknya sedang bermalasan Tidak tepat waktu Tuk selesaikan tugas rutin Kerja malam hari
Berita hari ini: Kudengar mendung tebal bertebaran Merayap pada dinding langit Dan terlalu letih untuk beranjak kembali
Berita hari ini: Koran-koran dan majalah robek Televisi hanyalah rangkaian mesin yang membosankan Yang semakin tak menawarkan apa-apa
Berita hari ini: Udara panas menelusup Pada setiap aliran darah Kudengar orang-orang tiba-tiba berkumpul Mengerumuni segumpal tubuh Yang membujur kaku pada semak waktu Di sebuah persimpangan yang lusuh
Berita hari ini: Kudengar, Tubuh malang itu adalah mayatku!
( malang, 21 April 2001 )
  |
|
|
|
TAK KUJUAL
|
Kuhisap rokok dalam rapuh malam Kuteguk anggur dalam sempoyomg kelam Ketiadaan menjelma duri Saat harus kuhadang aral
Berapa pun kau akan beli Indonesia Tak kan pernah negeri ini akujual Berapa pun kan kau tawar Indonesia Sejengkal pun tak kan pernah kuberikan
( malang, 26 Agustus 1999 )
  |
|
|
|
INFEKSI
|
Pada tanah Kering jiwa-jiwa terbakar Kemarin lusa, Lusuh kain benderaku robek Pahit cinta Berkali harus kusemai
Pada nisan Yang menebar bau anyir darah Kemarin, Mesiu telah mengirim kabar Bahwa pagi ini kerja belum lagi selesai
Dan akutemui darahku mendidih Menamparku untuk segera memburu Bergegas aku berlari Mewadahi desing peluru
Hingga pada luka Yang memar membekas popor senapan Hadirku untuk bersaksi Telah membuat luka-luka infeksi
( Malang, 25 April 2001 )
  |
|
|
|
TIDAK
|
Tidak! Aku bilang, tidak! Sebab hanya tidaklah Yang bisa menjawab kekesalanku pada kenyataan
Tidak! Sebab hanya tidaklah Yang dapat menghiburku Atas kekalahan-kekalahan
Tidak! Sekali lagi, tidak! Sebab hanya tidaklah Yang sanggup memaksaku Untuk tetap bergolak Atau paling tidak Untuk berani berkata, tidak!
( Malang, 21 April 2001 )
  |
|
|
|
DAMAI AGUNGMU NUSANTARA
|
Raharjaning nuswantara Langit kedap biru Cumlorot cahyaning srengenge Linandep ing antaraning mega-mega
Damai agungmu nusantara Dalam pernik-pernik yang ditumbuhi pepohonan Yang cabang dan rantingnya menjalari cakrawala Maka jika saja kau lihat patahan dahan dan bijian Yang tersentuh wangi bumimu Lekas serabut kecil itu akan menyeruak Dan segera membelukar dalam subur perutmu
Damai agungmu nusantara Yang menghias khatulistiwa dengan kapas mendung pada pagi cerah Serta mega warna kuning keemasan Saat matahari tenggelam ke dasar lautan Indahmu samudra… Yang menyimpan pantai dengan pasir warna-warni Hingga buih dan sauh pun Akan menjadi teramat betah berlama-lama di sana Hingga para nelayanmu Adalah prajurit gagah perkasa Yang enggan menyerah
Raharjaning nuswantara Langit kedap biru Cumlorot cahyaning srengenge Linandep ing antaraning mega-mega
Gemulai pertiwi Mengibaskan lengan dengan lentik jemarinya Menebar bunga pada landai angin laut pantai Serta sejuk pada rindang teguh gunung-gunungmu yang termenung
Senyumnya menyeruak galau Lembut sorot matanya rindu Membelai kaki-kaki bukit Yang melukis pelangi pada batas cakrawala, Usai hujan yang membasah Ia mengusap batang-batang padi Serta pucuk-pucuk pinus Yang menari Di antara seribu matahari
Damai agungmu nusantara Hingga maha tak terkiralah Siapa pun … Yang pernah menciptamu
  |
|
|
Friday, June 22, 2007 |
SEPANTASNYA
|
sepantasnya cinta yang sembunyi dibalik lipatan geber hitam tak tersentu oleh lampu dan tanganmu
sepantasnya luka yang kaupelihara tak lazim dalam penyelamatan rahasia yang selalu sia sia
dimana kau yang garang tak tunduk irama? adakah hilang di pagi jelang atau mati tertimpuk gulali
sepantasnya hidup diyakini gunung tak musti lebih indah dari pantai
sepantasnya cinta dimengerti dengung tak musti keluar dari lobang serunai
aku di sini setia hati elang mata tetap sunyi
menanti
kau berharaplah akan kembali
malang, 27 mei 07
  |
|
|
|
PALSU
|
kelembutan hati tak dapat kautipu daya mata punya takaran sudut bibir punya rumusan
kelembutan hati menangkap bibir dan mata kelembutan hati menyingkap seribu rahasia
jangan terlampau percaya pada penampakan toh tidak semua yang nampak adalah nyata jangan terhasut nafsu penganggapan roh dan badan bertolak dari sejati dan daya dusta
dan kelembutan hati selalu akan tahu andai kau beri ia kesempatan betapa hidup semu dan mahahidup mengintai di balik lipatan
malang 17 juni 07
  |
|
|
Tuesday, June 19, 2007 |
BERHENTILAH
|
berhentilah memusuhiku karena sebenarnya yang kaumusuhi adalah dirimu sndiri
kedengkian tumbuh dari tanah dendam kausemaikan dengan dusta bunga bunga fitnah sedang seluruh upayamu itu akan sia sia sebelum akhirnya mati tertimbun kebohongan kbohonganmu sendiri
jadi berhentilah mmbenciku karena yang sedang engkau musui tak lain adalah dirimu sendiri
malang 18 juni 07
  |
|
|
|
JANGAN TINGGALKAN AKU, MA
|
derum sunyi menindih pekak di jiwa letih suara asing berputar putar menjerat leher lelaki kukuh
aku melihat mata mata kosong hilir mudik di jalan jalan tandus tak ada nyanyian angin penat bertengger di pucuk pucuk kaktus keras dan angkuh
ma, jangan tinggalkan aku bukankah cinta punya jiwa jika kuraih jubahkesetiaan dan ragaku meronta setidaknya aku masih melihatmu
kisah kisahmu mungkin tak banyak tapi aku suka caramu bercerita dan jika saja kauhadir maka hari tak kan sesunyi ini
aku butuh senyummu, ma yang ajarkan ketegaran laut ang menahan segala musim hingga dapat kulampaui apa saja tanpa keluh
mlg 18 juni 07
  |
|
|
Monday, May 28, 2007 |
LAKILAKI LEMBAH
|
ada neraka kecil terbit dari kilatan mata lakilaki itu. neraka yang disemukan lebatnya alang alang kepalsuan, dibalut selimut kabut kepuraan.
ia berdiri mengintai seperti burung nazar yang nafsu. maka ditipunya burung burung kecil yang terbang hinggap pada dahan dahan pohon lembah. ia sibak beberapa daun dan ranting untuk membuat celahan kecil agar matahari sinarnya menuju ke dalam. tapi lihat betapa cerdik ia. cahaya itu tak langsung mengarah ke lembah tergelap dimana kabut sebenarnya tak terlalu tebal, hingga jika sinar itu terlampau deras, maka pasti akan dapat benar benar menembusnya.
lakilaki itu mengerdipkan beberapa kali kelopak matanya. dan aku melihat kelebatan senyum yang teramat rahasia, dingin. senyum yang dibangun dari beratus jarum, tindis racun dan melata melata kecil yang tubuhnya senantiasa mengeluarkan lendir berbau aneh. aku mengendap pelan, menyiapkan segala sesuatunya demi tetap terjaga. lindungi aku dewi lembah, lindungi sang cinta.
malang, 25 juni 2007
  |
|
|
|
TUJU ABADI
|
bumi tak imbang: masih jiwa tak nyaman: jadi lengah itu tragedi waspada alamat akalbudi
eyang ronggowarsito, kinasih bimbing aku tuju abadi hantar ke Muhammad biar kugamit jubahnya, kupeluk erat
silah terakhir kita bikin sajak sebentar dunia sebelum lantak
  |
|
|
|
MASJID DAN AKU
|
ya Allah, aku begitu ingin ketemu Kamu tapi apa aku harus kembali ke mesjid?
mlg, 16 april 07
ya Alloah beri aku keberanian yang masuk akal untuk memasuki halaman masjid ini,
sebab aku sungguh khawatir ini bukan lagi Masjid-Mu
mlg, 16 april 07
  |
|
|
|
POCONG
|
bapakibu kakakadik kerabatku tercinta, moga berkah hati dari segala keselamatan milik kita senantiasa
kematianku biarlah biasa saja seperti pula akan kalian yakinlah
batasi airmata jangan boros, sebab toh semua orang tahu ini nasehat bijak orang tua
: hidup mati kehendakNya usah keluh, usah susah
pesanku sederhana saja, kubur aku dimana pula: tak harus di kampung kita.
kafanku tak musti putih warnanya, hijau kuning kelabu, terserahlah asal tak sama kayak pocong sinetron indonesia
ngerilah...
malang, 16april07
  |
|
|
Wednesday, March 14, 2007 |
SAJAK KELINGKING
|
(buat Ambalat)
hei, itu malaysia lagi ayo kepalkan tangan bukan dengan empat jari tapi lima semua jumlahnya
hei, itu dia datang lagi mau coba dompleng kita punya lengah kita yang di prahara sekalian tangkap saja lehernya
siapa dia...siapa dia...?! biar siti nurhaliza idola kita urusan wibawa jangan ada tenggang tawar menawarnya...!
  |
|
|
|
WAJAHMU NEGERI
|
lihat wajahmu, negeri adakah si buruk rupa yang tak sanggup hanya buat sekedar percaya diri
lihat wajahmu, negeri yang tak tega menatap cermin demi sadar mimpi dan kenyataan yang bisa dibagi
rakyatmu nggak pede kalo lihat bule sebab konon dibenaknya di sana gak ada kere
pejabatmu belagu tampil perlente kalo terpojok baru berebut sebutan sahabat si kere
ahh....sudah lihat saja wajahmu, negeri tak pula tampak malu meski pun rugi tak hendak sedu nyata pun sedih...
  |
|
|
Friday, February 09, 2007 |
TUGAS PAGI
|
Pintu subuh terbuka dan nampaklah rupa matahari Semalaman aku berjaga di ladang ladang ubi Di hati serangga tak menampakkan diri Tapi bernyanyi lagu lagu tanpa melodi
Di saat tibalah berat kantuk di mata ini Segera pula kurogoh buah buah kunci Demi tunai tugas ini pagi:
bangunkan semua yang terlelap sodori seteguk air dari kendi penuhi harapan para pejalan hingga akan terasa berkah mimpi demi pagi yang letih.
  |
|
|
|
JUANG
|
selamat berjuang, gerilyawan jangan tinggalkan senjatamu di tengah hutan
selipkan doa di pinggang kanan dekat parang
bungkus kepala dengan kain merah sebagai jimat keberanian
jangan tembak musuh yang berhikmat kalau ada
bersihkan semua kawan yang berkhianat kalau ada
Malang, 23 Januari '06
  |
|
|
|
PEMUDA
|
hayo, bung! jabat erat tangan kita pemuda tak datang untuk kalah tak lahir demi menyerah
jika seribu mimpi telah kita terbitkan menjadi matahari maka akan ada sejuta pecundang yang 'kan datang untuk mencuri
jika perompak lari tunggang langgang saat menjarah itu tandanya babakan lain penjarahan baru bermula
tapi janji hati yang kita selipkan di sela sela malam, di buku diary dan nyanyian nyanyian sepi akan menjaganya
kita hanya butuh kata percaya bahwa darah merah saga yang kita sediakan untuk cinta adalah harapan hidup kaum papa dalam nyanyian keringat nasib yang nestapa: tiada ini sia sia!
hayo, bung! jabat erat tangan kita sebab pemuda tak lapang demi tak rela lahir tuk jadikan api jaman tetap menyala dan lahirkan lagi seribu pemuda sebelum kita pun beranjak menjadi tua hayo, bung!
Malang, 4 desember '06
  |
|
|
|
YANG MENCARI DAN ABADI
|
sampai dimana langkah ini henti sedang jantung tak kabar mati
hidup adalah penantian meski abadi tak harus kepastian
tapi orang yang mencari oleh sejarah dan langit akan diberkati bahwa hidup adalah merjan merjan keniscayaan ia abadi dengan harapan
dalam kebenaran orang lakukan kesalahan tapi dalam ketersesatan ia tak lakukan kebenaran sekalipun
dan betapa mahal harga kesadaran sebab ia tak begitu saja keluar dari batu akik jika tiba waktu untuk bergolak lihatlah, ia angkat panji berkibaran
kau dengar deru nafasnya kesabaran menopang di pundak kiri keberanian menyanggah di pundak kanan kalian berbaris rapi di belakang
saat panen tiba ia kautinggalkan menggigil dan mati kesepian
malang 29 juli 06
  |
|
|
|
MENGUNJUNGI WAKTU
|
Hari ini aku sempatkan diri berkunjung ke istana sang waktu Di gedungnya yang menjulang megah semua tampak lengang Aku berdiri ragu
Sedikit kutepis selinap rasa takut dan terus kuseret kaki ke depan pintu Di sana tiba-tiba aku disergap kengerian yang begitu menderak Mendadak wajahku menjadi sedemikian pucat
Beku Kutarik nafas dalam dan mengatupkannya di kelopak mata Kucoba tetap melawan Dan pada ruang sempit keberanian yang selintas menyeruak lekas-lekas kuseret kembali kakiku, sebelum akhirnya dentuman lonceng menahannya di hamparan kosong yang tak kumengerti
“ada apa!” Dan suara itu terdengar seperti hempasan sihir yang memberhentikan segala-gala Hingga kurasakan ada yang remuk Pada permukaan jiwaku yang kusut
Betapa saat ini akurasakan kosmos menelanku bulat-bulat Di kesepian Apologi, fantasi dan bayang-bayang
Tak kuasa kubentur tatapnya Sorot dingin yang seolah tanpa darah Yang dari getarannya saja telah kutangkap semua jawab atas semua pertanyaan
Dan sebelum kering sisa tekad dan keberanian Segera aku berpamit Pulang…
Selengkapnya!
  |
|
|
|
PEMBALAP
|
seorang kawanku yang sangat menyukai motor lebih dari kecintaanya pada apapun sedemikian senangnya meluncurkan tubuh dengan kecepatan sangat tinggi. Suatu hari ia bercerita kepadaku bahwa telah dilihatnya wajah tuhan tepat pada lorong di antara berbagai benda bergerak cepat di setiap lintasan yang ia lalui. Dan sambungnya lagi, seorang pembalap sebenarnya sudah akan kalah dalam setiap sirkuit pada setiap kali muncul di benaknya ketakutan akan mati.
  |
|
|
|
MEMOAR KALA
|
Aku pernah bersaksi Bahwa darah adalah ada Membentuk partikel pelangi Di sudut gumpalan daging Menari-nari di sela hari
Pernah kuteriakkan Kematian dan tuhan Hingga kusisakan benang-benang hidup di putih tangan Untuk kujeratkan di lehernya hingga keluar kata-kata kebenaran
Aku pernah membisu Hingga tanya menjadi tawa Di kerongkongan kata ada yang terjerat, Dan kini harus kusabdakan Semua ada adalah ketiadaan Dan kata adalah bisu Di sanalah aku mencari Dan memberi…
  |
|
|
|
MATA AIR ADAM
|
memasuki keheningan mata air gunung gunung hakekat menembus belantara api yang murung. keberanian meranggas semak kemuskilan adalah keniscayaan lahirnya titik api kkemungkinan
manusia hanyalah sosok miskin di bawah semesta abadi kehadirannya adalah hukuman bagi kekalahan yang pedih
jika adam mafhum atas kewajaran hati maka kita adalah anak anak turunnya adam membasuh muka di mata air itu hawa menangis dalam rindu yang sakit tatkala jasad habil rebah seekor gagak telah tau sebuah berita: mata air itu telah menjelma belantara api!
kau dihadapkan bentangan ruang yang dendam berpaling bukanlah pilihan hingga segeralah kautentukan mana yang lebih muskil: kematian manusia ataukah abadi dalam kesementaraannya
  |
|
|
|
SEPI
|
telah terbit cahaya darimana asalnya nyanyi debu irama debu kemana melabuh
telah tenggelam ketenangan jadi kenangan nyayi rindu tentang rindu irama syahdu
aku berpijak api menjelajah keremangan hari aku memantik sepi membelah karang hiruk pikuk dunia mati
sepi
  |
|
|
|
KAMPUNG NAGA
|
selamat datang di kampung naga naga besar naga kecil sama saja sama sama naga!
mata merah nafas tajam aroma bara gejolak darah
selamat datang di kampung naga naga kecil apinya kecil naga besar apinya besar sama sama api!
mata merah hati nyala jangan lelah memeluk cinta
  |
|
|
|
PERAHU PERANG
|
matahari nanar di puncak ketenangan jiwa yang murni
daun daun seperti membara telaga mendidih airnya angin berhembus menyengat dan detik detikku terbakar
di kala sedang pekurku dalam keheningan maka ia menjadi api yang berkobar dalam batinku tumbuh serupa binatang buas menyeringai dan mencakar
di saat sedang tegakku di altar persaksian maka ia menjadi kirapan gejolak bendera bendera yang berkobar
dalam batinku labuh selayak perahu perang tua yang berjuang sendiri di kejauhan samudra yang lepas menerjang dan terhempas silap di mata mercusuar
yang kucari adalah kebenaran dan kebenaran ada di sini aku tegak dan bertahan diam dan tenang
dan jika kausangka yang berlaku adalah kekosongan dan sia sia maka dengarkanlah: keyakinan tidaklah kosong dan kebenaran bukanlah sia sia!
matahari boleh saja tetap nanar daun daun yang membara telaga mendidih dan angin menyengat hembusnya dan jasadku bisa saja hangus dan terkapar tapi ketenangan jiwa adalah pantulan dari ruh ia akan terlahir kembali hingga beribu kali
api akan tetap berkobar menjadi nafas bagi binatang buas yang terus menyeringai dan mencakar
bendera akan terus berkibar menjadi petanda bagi perahu perang tua yang terus hidup dan melawan
karena binatang buasku adalah milik belantara hutan yang murni sebab perahu perang tuaku adalah penjaga kehormatan bagi hidup yang sejati
dan di kala senja hari menepi binatang buasku menuju jalan pantai di sana perahu perang tua telah menanti pulang ke peluk ibu kebenaran tenang dan tentram
  |
|
|
|
SATU ZAMAN
|
seribu kata gemerlap dan kita lelap
sribu suara menguap dan nada nada luap
ini pembicaraan tentang satu zaman masa dimana tak terlintas bayangan di sisi sisi jalan
kemana perginya kucing hitam yang biasa bersandaran pada pokok itu pohon asam tak kulihat cahaya matanya tak kudengar nyanyi meongnya
kata orang bijak manjur dan mujarab maksudnya hingga hari ini sepi sunyi
kata kata gemerlap menguasai ruang dan tak cepat mengendap lelap meluap
  |
|
|
|
DI JELANG KERETA
|
kereta hampir saja tiba dan hatiku belum juga beranjak tenang adakah aku menunggunya?
selalu malam hari adalah saat saat yang kubayar dengan gigil sedang pagi menyimpan taman dan burung burung kecil warna warni untuk dirinya sendiri
akuhiasi kamarku dengan bunga bunga sambil berharap dapat berdamai dengan pagi
adakah ini pengkhianatan sementara malam telah menghiburku dengan lagu lagu serangga dibelainya aku tentang kisah kepahlawanan sejati dan keabadian
bilakah aku menunggu kereta demi reda setiap gejolak dan memagari mimpi mimpi mata pada buhul buhul kesementaraan
akan dayakah aku menyangga kekalahan dalam melawan setiap bayangan
  |
|
|
|
SELIMUT
|
serat benang sungsang sayap burung yang bercumbu dengan angin jatuh dan tertahan dahan dan daun daun di antara belantara yang keramat dan dingin aku sibakkan rambut dunia yang kusam gerainya telah sampai ke pundak
dan perlahan kusulam robekan besar ini dengan cermat dan teliti demi mimpi tidur malam nanti
  |
|
|
|
JIWA YANG MELAWAN
|
jiwa yang yang diasah oleh jalan tegak dan melawan langkah yang dibimbing jalan tak pernah tinggalkan jalan
ia tak asing dengan segala dusta mafhum pada setiap lagu pura pura orang yang dikalahkan dan menyadari ketakberdayaan adalah orang yang sedang mendadarkan hikmah kekalahannya menjadi tetes darah bagi jalan hidup ia singsing baju perjungan ia songsong matahari kemenangan
orang yang terus melawan adalah ia yang maklum akan segala resiko perlawanannya
orang yang terus melawan adalah ia yang mafhum akan setiap resiko kesadarannya
orang yang terus melawan adalah jiwa abadi bagi jalan anak kandung dari semangat semua zaman
  |
|
|
|
KITA KENYATAAN
|
jika anggapmu kau menang berilah sekedar alasan agar dapat kuturunkan bendera ini dari tiangnya
jika anggapmu aku menyerah berilah sekedar penjelasan agar dapat kuhapus jelaga
jalan aral membentang, kawan puisi puisi yang demam dan kecewa membukit di simpang simpang aku menjadi pacar bagi setiap pertanyaan, adakah buncah perjalanan adalah titik api yang sia sia!
kita adalah kenyataan!
  |
|
|
|
DI IRAMA BURU
|
berjalan dalam irama buru maka selayak berebut langit satu matahari menjadi keniscayaan
bicaralah padaku usah diam biar kebenaran hadir untuk tak pejam dan lahirkan lagi kebenaran bagi makna hidup yang tak boleh kusam
  |
|
|
|
KUDA PUTIH
|
merah padam jiwa meranggas luka biru lebam memantik bara ia kuda putih yang elok gagah menentang irama
ketika malam menjadi persinggahan bagi setiap duka dan pura pura seluruh bintang takzim menunduk muka
kuda putih melompat di semak dan kelelawar menyingkiri daun daun ia mafhum pada kemalangan meski luka tetap menjadi kekasih malam tapi siang akan hidupkan setiap butir mimpi pula harapan
ia kuda putih yang jantan
RAPUHKAH
terbujur jiwa yang rindu rebah lesu di dada waktu
rapuhkah ia? kenapa tak anjak menyerah sedang hari hari amarah
tapi rindu jadikan harap demi ketemu dengan menanti atau memburu
belum serah kenang amarah
rapuhkah itu jiwa?
  |
|
|
|
BENDERA
|
(catatan menjelang tidur) kawan, kaulihat betapa bendera ini sudah kusam. dan kalau sudah seperti itu, semakin tak nyaman pula bagi mata untuk hendak memandang . hingga semakin gegabahlah kita bertindak meski tanpa harus seserve betapa bisa saja itu salah....berbahaya. bahkan.
usai mandi kita kain handukkan ia. rampung makan kita lap tangan hingga semua noda berpindah.jika sudah sekotor itu jadinya bendera kita, kawan, betapa semakin malas kita demi mau sekedar merasa memiliki.alih alih berbangga diri.
merah bukan hanya jiwa dan putih tak hanya suci tapi menjadikannya berarti tak semudah membuat puisi
kawan, kaudengar betapa gemuruh ini lahir dari sepi. terdesak oleh hawa panas dari siaran radio dan televisi. kemiskinan sudah lama jadi barang dagangan. bahkan drama renungan dan jerit mlam seperti waktu kemah kita bersama dulu, saat ini telah bisa lho meraup keuntungan dengan rating tinggi. mengetuk hati seolah olah,sementara ranking penderitaan makin tak terbilang hebatnya.
orang tua dan anak anak kita yang buntu sudah semakin pintar bermimpi dengan pintas. sementara di saat yang sama para juragan tiba tiba ramai berdendang, lantaran merasa telah mampu membuat bola salju dan terobosan yang mereka sebut brilian:kecerdasan mmbaca peluang. satukan medan bisnis, ongkos sosial dan hiburan. kemudian dengan anggunnya mereka duduk di atas sebuah trap marmer, mengapit pundi pundi emas yang mengalir jumlahnya. sedangkan kita melongo, kadang ikut tertawa, entah apa maksudnya.
ini hanyalah sedikit saja, kawan, noktah jingga bendera kita yang kusam. besuk malam, menjelang tidur kita bertemu lagi di tempat ini. saat itu, giliranmu menceritakan sebentuk cerita lagi yang lain, dan bagianku pula mencatatnya di diary, persis seperti yang sedang kaulakukan sekarang ini. selamat tidur, kawan!
semoga masih bisa mimpi indah. biar untuk sementra, itu saja yang tersisa..
malang 12 juli 05
  |
|
|
|
DI PASAR
|
di pasar, pagi hari sebelum kita terjaga dari lelap mimpi di pasar, pagi hari sebelum kita membasuh muka dari sepi
ada api yang berkobar di tengah hiruk pikuk dan kerumunan api besar dari bara juang milik kita yang bisa membakar
api hidup orang orang tua yang masih menyekam keberanian bertahan menjajakan harapan dengan senyum pualam orang orang tua yang menjaga menjilati dadanya untuk ia wariskan pada putra putri tercintanya, kelak
di pasar, mata seorang remaja cekatan dan gesit menyelinap di antara wajah wajah dan riuhan suara di pasar, mata cantik seorang gadis tak lekang menguntit tingkah sang remaja. di bibirnya terbit matahari, meski sederhana
ada api yang yang berkobar di tengah hiruk pikuk api yang senantiasa membakar menjaga hati hati gadisku dan gesit mata sang remaja untuk selalu tumbuh memeluk harapan orang orang tua yang tersenyum pualam :
memberkati hidup dengan arti di negeri yang masih berjantung nurani
malang, 17 juli 05
  |
|
|
|
AKU PERNAH SENDIRIAN, KAWAN
|
aku pernah sendirian, kawan berjuta menit aku terpuruk di sini. Menyetubuhi keberadaan sendiri. Meloncat dari kata ke kata, untuk satu suku yang belum terselesaikan. Melambai-lambai. Langkah ini terkoyak tajamnya pisau. Menjadi hiasan di raga dalam hari. Aku sendirian. Kucoba menghitung helai helai sayapku yang berguguran diterpa racun menjadi kata-kata. sayap-sayap itu menghitam pekat.
Darah dan airmata menjadi kereta. Karena mereka yang kukenal berebut menciumi dan menjilati seluruh luka di tubuhku.
Yah, aku pernah sendirian kawan. Melang-lang di atmosfir kata dan sebentuk dunia tanpa suara. Menjerat dan mengumpulkan kata demi kata, menenunnya untuk sebuah makna, bukan untuk kematian dan keberadaan seperti yang mereka definisikan. Karena kukira itulah tugasku di hidup ini. Akulah nabinya. Kalau mereka lihat aku berada di ketakberartian yang kosong, kukatakan, mereka salah atau kalau tidak pastilah sedang berbohong. Sebab kesia-siaan yang mereka pahami sebetulnya perangkap yang telah menjerat diri mereka sendiri, hingga tersia-siakanlah mereka dengan penglihatannya itu.
Aku tak pernah pergi, karena kata-kata yang kurangkai belum membentuk bait puisi yang utuh. Jadi aku tak pernah mati, sebab bisa jadi berkali kematianku adalah kelahiranku untuk yang kesekian kali pula. Aku tak pernah tidur karena aku telah atasi waktu.
Aku pernah sendiri, kawan Mengisi laboratorium kata-kata Dalam ruang pengap yang dipenuhi mimpi dan janji-janji.
Malang, 26 desember 2003
  |
|
|
|
KALAU KALIAN TERTAWA
|
kalau kalian tertawa, aku senang sekali sebab aku melihat kalian benar benar lucu
kalian seperti ular-ular kecil yang menggemaskan selalu mendesis-desis dan menjulurkan lidah
tapi kadang kalian juga berubah menjadi buaya yang bermoncongkan selayak serigala tapi taring kalian juga tampak lucu karena kepala buaya dengan moncong serigala itu terlihat aneh
siang malam kalian berteriak-teriak seperti perumus jaman dan penggerak matahari padahal kalian hanyalah mainan angin dan hujan
jadi sudahlah biasa saja cukup sadari saja siapa kita
Malang, 22 juni 2000
  |
|
|
|
ANJING - KUCING
|
Anjing suka ngomong sembarang Karena dia memang anjing Anjing suka kencing sembarang Karena dia memang anjing Dia suka tak ambil pusing Sebab dia memang tak pernah pusing
Kucing suka mengendus pantat kucing lain Kucing…juga suka mengambil jatah makan kucing lain Tak peduli teman kelaparan Masa bodoh kerabat kesakitan
Anjing dan kucing paling suka tampak sibuk Padahal mereka tak suka sibuk Anjing dan kucing suka berebut tempat tidur Padahal mereka tak suka tidur
Yah, namanya saja juga anjing Kucing pastilah tetap kucing
Malang, 15 juni 2000
  |
|
|
|
PEMBUAL
|
Kau selalu datang ke sini dengan bualanmu. Dan kau selalu bercerita, bahwa kau telah bertemu dengan pembual-pembual yang lainnya. Katamu, mereka selalu pergi kemana-mana dengan mengendarai awan putih di atas air ludah yang selalu berbau harum.
Dan katamu juga, mereka memakai sepatu dari jiwa-jiwa sahabatnya. Mereka selalu bernyanyi, mendendangkan lagu-lagu derita karibnya.
Kau katakan lagi, bahwa kau ke sini datang dengan mengendarai ular berkepala bayi manusia. Katamu, suatu saat ular ini akan tumbuh menjadi seekor naga besar tanpa taring, yang akan mengoyak moyak sejarah manusia. Dari matanya yang bening menyorot tajam sinar yang lebih terang dari matahari, dan hembusan nafasnya adalah kematian. Kematian seluruh kehidupan; Hidupku, hidupmu, hidup kita! Kau mati, aku mati, kita semua mati! Hingga dapat kukatakan di hari upacara penguburanku, Setidaknya akulah yang membesarkan ia.
Kemudian kau pergi begitu saja. Ah…
Malang, 22 juni 2000
  |
|
|
|
BERINGIN
|
Dan malam membawa angin Menancap luka di pohon beringin Dendam marah padamu dingin Beku tubuh di air asin
Sudahlah jangan berlagak jadi pesakitan Semua orang tahu Siapa kamu Jadi jangan ajari aku Tentang rasa sakit dan bau
Kini aku hanya ingin di sini Menyanyikan laguku,
Dan malam membawa angin Menancap luka di pohon beringin Dendam marah padamu dingin Beku tubuh di air asin
Malang, 7 agust 2004
  |
|
|
|
BELENGGU
|
Badannya kurus kering Seperti jiwanya Sekering kampungnya Yang kerontang disengat kemarau
Malam telah berlalu Pagi yang bersinar menyambutnya Dengan kicau-kicau Dengan harapan Hari esok yang menuai mimpi dan keberkahan
Tapi pemuda itu tampak makin luruh Raut mukanya kusam Gairahnya kusut Dan matanya gelap menatap cahaya Udara dirasakannya pengap Cerah tak berarti apa-apa hari itu
Hidupnya dipenuhi tekanan Hari-harinya adalah jadwal Dan program-program picisan Otaknya dijejali ritual-ritual membosankan
Selintas dia meronta Berusaha memberontak Tapi belenggu itu rupanya terlalu kuat Untuk kedua belah t6angannya yang cacat Nafasnya memburu … tersengal sengal Kelopaknya berkaca; “Aku kalah!” Teriakan itu tiba-tiba saja terdengar dan mengankat dagunya Yang cemang-cemong
Dagunya terangkat menengadah Dan kata-kata yang tidak dipikirkannya terkulai lemah pada Suara yang seolah tersekat … tersendat … lunglai … Mengucur melalui bibirnya yang pecah pecah :
Tuhan, telah kau anugerahkan rahmatmu atas kampung ini Telah Kau hadiahkan kemerdekaan sebagai balasan atas derita juang kami Tapi adakah ini berarti …
Coba engkau lihat, Tuhan Pandangilah dalam-dalam Haruskah kami syukuri kebebasan ini Jika kami sendiri masih terus merintih-rintih di sini Pada waktu yang konon sudah pagi Masih haruskah kami berterima kasih Atas apa yang bukan milik kami
Kesabaran itu sudah lama lenyap Begitupun dengan kemarahan kami Yang beberapa waktu lalu Mesih aku temui nongkrong di ubun-ubun kami Semua sudah pergi Meninggalkan badan wadag Yang hanya menyisakan tulang belulang ini
Kemerdekaan?
Jadi tak bolehkah kami menyumpah nyumpah atas apa yang kami anggap omong kosong Yang senyatanya memang hanya dongeng samar tanpa ujung … definisi-definisi adiluhung yang dipetieskan dan digantikan dengan sekandal dan penggusuran
Sebab kemerdekaan mungkin hanya peluang Dan para pejabat yang berpesta pora Bersama tuan-tuan tanah Tak ada artinya apa-apa Tak seorangpun dapat mengertinya Tidak juga kami Yang terasing di rumah sendiri
Ada butir-butir bening yang mulai berjatuhan Matanya dihantam banjir Lidahnya membeku Tenggorokannya tiba tiba mampat Tersekat sesuatu yang tidak dipahaminya
Tuhan, jika kemarin datang berbagai jenis binatang buas ke rumah kami, dan menginjak-injak sawah ladang kami Maka telah Kau saksikan Sejarah telah kami aliri anyir darah Upacara pengorbanan sudah menghanguskan segalanya
Tapi ini sungguh diluar perhitungan, Tuhan Matahari belum lagi sepenggalahan Ketika beberapa teman kami tiba-tiba sudah memiliki taring dan cula Cukup lama mereka nampak mengitari halaman rumah-rumah kami dan meneteskan air liur di setiap tempat yang dilalui Tebaklah, Tuhan Kami harus berbuat apa
Bisa jadi kami ini memang terlalu sentimentil … baik hati .. kelewat penyayang Sehingga sesuatu yang harusnya kami singkirkan buru-buru mentah lantaran ingatan kami akan berharganya menyayangi saudara, paling tidak itulah yang kami pelajari dari orang-orang tua di kampong kami
Ah, andai saja mereka adalah sejenis binatang buas seperti dulu kami pernah menghalau Kami takkan semenderita ini Jika pun untuk itu kami harus mati Kami akan mati dengan tenang …
Mata pemuda itu masih membasah Ada sebersit senyum di bibirnya Seperti harapan Harapan yang kering … Seperti kampungnya yang kerontang Disengat kemarau
[Lamongan, 12 Desember 1997]
  |
|
|
|
BILIK
|
Bilik ini Penuh asap rokok Dedaunan terbakar Menyergap angkasa Ada yang terjepit; Malam ini Aku tak bisa apa-apa!
Kepalaku bocor Tumpahan otakku semburat Tanah tanah terbasahi Mengalir di sungai Menembus padas meyusur rawa dan ngarai Lalu hinggap di ranting kering sejarah Hingga tak ada lagi aku Yang bermimpi tentang mayapada
Asaku luruh Badanku pecah berkeping-keping Musim dingin Jaket tua Padanya hanya Kusisakan kesah
Beku Aku nyanyikan lagu ini untukmu Yang sedang asyik bermain petak umpet Juga padamu Yang digilas pahit nasib: Kuhadirkan di hadapanmu jeritan Agar kamu percaya; Bilik ini membuatku sesak!
Dan setidaknya malam ini Biarlah sejenak aku menepi Tinggalkan gugusan mimpi Yang sedang bermimpi Tentang impian pagi hari
( malang, 6 febroari 2001 )
  |
|
|
|
MENGUNJUNGI IBU
|
Pada pertengahan hari yang kubanjiri dengan kebencian, air susu ibuku yang kujadikan tombak dan parang seketika menolak untuk kupakai menyerang. Padahal tubuhku sendiri sudah basah kuyup oleh darah segar, dan keringatku memancar layaknya mata air yang tak beranjak kering.
Lalu aku berangkat menemuimu untuk bertanya tentang semua kemelut ini. Semua kepahitan yang tak kumengerti,
“Kenapa justru aku yang menjadi tawanan dalam peperangan ini? Bukankah setiap gerakku adalah pantulan dari setiap peristiwa masa lalu. Yang pernah kupetik di ladang-ladang buku dan musium? Apa hanya sekedar karena aku terlahir di musim ini, sehingga engkau pun kurasakan begitu jauh dan tampak sedemikian dekat dengan mereka?
Ibu, tolonglah aku yang mestinya memang tak mengeluhkan hal ini kepadamu. sebab setiap pertanyaan itu sebenarnya sudah lama telah kujawab sendiri, yang kemudian justru membuatku terpelanting dalam kekosongan ini. Dan apalagi aku pun pasti tahu bahwa engkau tak ‘kan pernah menjawabnya, tIDak kan pernah, meski hanya satu kalimat saja.
Tapi cobalah sedikit engkau mengalah,ibu. Kalaupun bukan dukungan, setidaknya aku butuh keyakinan! Dan jika tak lagi kuhisap air susumu, itu karena memang aku sudah terlalu mabuk.
Sekarang biarkanlah putramu ini menyandarkan kepala barang sejenak. Lalu engkau belailah rambutku, sekali saja. Dan bersama itu ceritakanlah kembali dongeng yang pernah engkau kisahkan pada setiap kali aku hendak tidur di setiap malamnya, di masa kecilku dulu”.
( Malang, 9 September 2003 )
  |
|
|
|
KEPADA SAHABAT
|
Sahabat, ketika pagi terbit, saat itu pula aku sudah terbangun. Hanya saja aku memang tidak terburu beranjak, berusaha mengingat ingat lagi mimpi yang barusan saja terjadi, mereka reka adakah ia pantulan dari segala hal yang teralami serta jadi pengingat dan alasan bagi ku bangun hari ini. Ataukah mimpi adalah mimpi begitu saja...terpotong atau berdiri sendiri, berupa makhluk ganjil yang hidup di dunia bawah sadar kita dan tak hendak berurusan dengan hajat diri, di mana di dalamnya menyelubung Id dan super ego yang tak henti saling tarik dan bertikai.
Sahabat, ketika pagi terbit, karenanya aku tak bisa begitu saja beranjak demi mendamaikan antara aku dan diriku sendiri serta membuat semacam kesepakatan – setidaknya untuk sementara – bahwa apapun yang sedang berlaku adalah karena hidup tumbuh untuk disikapi, dan kita pun tumbuh menjadi kekuatan inti bagi kesadaran melakukan dan berarti.
Segala hal yang terjadi, terasa pahit atau manis, adalah citra citra yang memang niscaya disebabkan putar giling hati dan pikiran serta persentuhannya yang secara langsung kepada dunia luar yang sebenarnya tak an sich luar itu. Karena citra adalah milik kita sendiri, hadir dalam berbagai bentuknya, meski pada akhirnya akan tetap mewujud sebagai wakil dari spirit kesadaran terakhir yang konon telah kita miliki, kita pilih!
Sampai di sinilah aku berkalinya pula lantas dihasut oleh sebuah dorongan asing yang anehnya justru terasa begitu dekat kukenali. Setiap kali ia hadir, aku seperti dikejar sebuah kerinduan yang entah: mengapa tak berlaku seperti layaknya air. Mengalir dan lalu singgah atau bahkan berlabuh di tempat tempat yang ditakdirkan mengambil dan memilikinya?
Ah, serangan semacam ini biasanya sungguh mematikan. Tapi tahukah kamu, bahwa ternyata aku juga masih bertingkah layaknya seorang hero yang menguasai daerah pusat ketegangan,
“Aku bukanlah air!”
kemudian terdengar lagi menyusul suara lain dalam diriku menimpali dengan sinis,
“Lalu apakah gerangan kau ini? Batu?!”
Terkadang tak tahan aku melihat pertengkaran seperti ini. Apakah akan ada manfaatnya? Tapi begitulah, banyak hal naif terjadi – sesuatu yang pasti kaupahami. Terkadang pula ia membutuhkan jawaban ketus dan tanpa hati. Tapi di saat itu kita lakukan, buru buru pula rupa kenyataan itu membentur jidat dan melancarkan kritik pedas, bukankah semua yang berlangsung sudah naif sejak dari awalnya?! Nah, adakah jawaban semacam itu muncul sebagai manifest kesadaran pilihan ataukah memang melecut begitu saja sebagai reaksi tak terkontrol, sikap acuh tak acuh dan bahkan penenggelaman diri dalam stream yang kiranya paling mungkin menjadikan kita merasa tentram demi menautkan diri?
Ya. Begitu banyak tampaknya. Hal hal datang menghampiri, silih berganti, hingga tak jarang pula membuatku merasa seperti masih sedang berada dalam mimpi. Itulah kenapa juga seringnya aku merasa terlalu lama memikirkannya hingga tak sadar hari benar benar sudah terlampau terang untuk disebut pagi, persis seperti sekarang ini. Padahal hari ini aku sudah ada janji, menemuimu di tempat biasa seraya terus bertanya, adakah arti juga hadir di antara persahabatan ini?
Malang, 9 November 2005
  |
|
|
|
NURANI
|
Seperti katamu, pada suatu hari aku menyelesaikan tugas tugas ini. Tugas tugas yang penuh cacat bagi sementara kaum kita. Dunia telah menelan sejarahnya sendiri. Menjadi sebuah kota yang teramat terbuka. Kau aku dan mereka semua bisa saling membuka keburukan atau pamer kemulyaan. Tapi rahasia tetap bersembunyi dalam lorong lorongnya sendiri. Yah, lihatlah betapa banyak lorong lorong itu. Dingin dan lembab, batu batunya licin dan dipenuhi serangga yang akan menggigit jika mereka terinjak. Di kedalamannya, kita takkan tahan bernafas hanya melalui hidung, tapi musti membuka mulut, melebarkan kerja paru paru. Dan apakah yang hendak terasa di sana? Ialah sengatan gas yang mencemaskan, basah dan lantas menguap, mempercepat pacuan jantung kita.
Lorong lorong ini, ia memiliki arah dan celah celah lobang perantara yang banyak pula bercabang ke setiap arah. Saling berkelindan hingga bertemu sebagai suatu rangkaian lorong lorong. Benar, itu lorong yang sama. Lorong dimana tersembunyi rahasia rahasia kita. Apakah yang kita sembunyikan di sana, tahukah kamu? Hati nurani kita. Benar. Cahaya yang mustinya kita jadikan penuntun dalam membuka map semesta. Apakah kita menyembunyikannya di sana, di lorong lorong itu? Tidak. Tidak hanya menyembunyikan. Tapi memenjarakannya, sayangku...mengasingkan kebenaran yang sudah dianugerahkan dengan lembut dan penuh kepercayaan sebagai bekal kita untuk kembali pulang. Ataukah kita yang memang tidak menginginkan kepulangan itu? Tapi mungkinkah? Toh kepemilikan kita atas diri sendiri pun hanya sebatas kesemestaan lahir saat ini, bermula kelahiran hingga berujung pada kematian. Sesudahnya kita tak berpaut lagi dengan kehendak kehendak. Kita akan kembali pada hakekat ruhaniah kita. Sesuatu yang kita namakan Loji, Linh atau Abdur Rahman atau Viola sekarang ini mungkin di saat itu kita tak mengenalinya lagi. Loji itu hanya petanda saja dari sebuah ruh yang dilahirkan, dibadaniahkan selengkap yang kita punya saat ini. Diberi kehendak, nafsu, untuk melintasi sebuah mistar yang masih gelap di depan. Tapi ruh tak pernah lenyap, ialah yang akan abadi pada kurunnya, kembali pulang di saat yang juga gelap kita pandang lantaran mistar selalu saja gelap di depan. Tapi bukankah kita sama sama setuju bahwa itu akan terjadi? Lantas apa gerangan yang terjadi dengan ruh ruh itu? Kita kemanakan cahaya ruhani itu? Semestinya Kau tahu jawabnya, sayangku...
Yah, aku telah selesaikan tugas tugas ini, tapi belum seluruhnya. Aku bahkan baru memulai....
Malang, 28 febr ‘05
  |
|
|
|
KECAMUK dan MIMPIKU
|
Apa sebenarnya yang sedang berkecamuk dalam pikiran pikiranku ini; vitalitas, energi yang berlebih atau hanya ilusi ilusi tua yang cerai berai dan tak kunjung dapat dipertemukan kembali setelah gagal mencapai visinya yang lebih baru? Absurd! Sukar didefinisikan. Atau jangan jangan ini semacam ungkapan rendah diri, ketakberdayaan sebelum mencapai titik pasrah?
Aku tentu saja berharap semua baik baik saja. Setiap beban pikiran berakar dari kenyataan kenyataan yang muncul di hadapan. Yang nyata -- entah manis atau menyakitkan. Menyebalkan bahkan.
Tapi bukankah ada sisi pada setiap sisi? Arah kiri kanan pada kiri atau atas bawah pada kanan. Apa yang dianggap baik, berisi pula dua kebenaran. Dan kebenaran baik - buruk terbelah lagi dalam dimensi dimensi yang berlawanan, entah sampai berapa kali. Lantas bagaimana menemukan titik paling ‘sahih’ dari sekian pilihan yang setiap saat dapat berubah, tapi tak pernah bergeser sedikitpun sebagai kenyataan? Aku terjebak di tengah tengahnya! Dan sementara aku menyadari bahwa seluruh kecamuk yang terjadi tak akan mungkin muncul dengan mengingkari picu yang telah ditekan entah oleh sebab dan alasan apa. Letupan terjadi karena terjadi pula perbenturan antara kenyataan dengan serupa materi yang disemburkan melalui larasnya, dan pastilah itu mimpiku!
Mimpi? memang sebentuk apakah mimpiku itu?
Jombang, 16 November 2005
  |
|
|
|
SEBUAH SORE
|
Sebuah sore yang cerah, bersinar. Tidak seperti sore sore biasa, yang seharusnya. Aku bersandar pada dinding kayu besar yang hanya bertumpukan balok kecil. Di depanku sebuah meja yang juga terbuat dari balok, sudut kanannya menempel badan pohon ceri yang tak begitu besar.
Sendirian saja. Jiwaku terasa tak diam. Meliuk, melingkar lingkar dan lantas lenyap begitu saja dan berganti dengan lingkar lingkar baru yang susul menyusul, seperti juga asap rokok ini. Mengapa tak ambrol begitu saja seluruh isi kepala. Carut marut yang meranggas seperti setan yang sedang tertawa tawa, mengitari seluruh penjuru tanpa dapat tertangkap wujudnya. Begitu riuh dalam keheningan sebelum mengendap. Gelisah macam apa yang mengumbara? Amarah sekobar apa yang tak hilang segera; menyala dengan sorongan gaib yang tak tertunda, tak bersudah.
Ini aku yang dikepung hidupkah atau justru sedang terlampau pongah menentangnya. Mengincar rupa buruk dunia seperti membenamkan diri dalam bara. Jelas jelas aku terbakar. Rasa panas itu pasti, lepuh lepuh di kulit itu juga perih. Tapi soalnya adalah kenapa aku justru menetap ada dalam situasi tak beruntung ini. Adakah ia buah pilihan hidup itu atau malah kekalahan tragis yang bahkan menggelikan? Adakah ini benar benar aku sadari atau jangan jangan merupakan gejala sakit jiwa.
Tak pelak aku adalah milik dunia sedari kali pertamanya aku lahir. Dan dunia dipermilikkan kepadaku saat aku sudah mulai mengeja bentuk bumi, letak langit, bias cahaya, harum daun daun dan intensitas ombak. Juga perempuan perempuan, keluarga, handai taulan dan sanak tetangga. Aku mulai berfikir tentang apa yang aku nisbikan sebagai milik. Milik yang menjadikanku harus terus menata ulang definisi definisi yang cerai berai setelah dengan susah payah kususun. Karena tampaknya aku sendiri semakin tersadar betapa dunia juga kepunyaan yang lain, dan karenanya juga dunia berhak atas mereka.
Dalam hal ini kami sepadan, meski tak sekonyong konyong serupa. Aku bisa membahayakan diriku dan mereka dapat mengambil banyak. Dunia bermurah hati pada siapa saja. Tapi setiap kali kami mendapati kecenderungan dan tabiat yang berbeda. Muncullah para penjarah, mengambil apa saja yang tersedia, bahkan yang ada. Apa saja. Aku juga melihatnya. Tapi apa hendak kata; kami terang berbeda! Mereka mampu berbuat sesuatu yang kami tak bisa, bukan saja lantaran ketidaksamaan daya dan budi, tapi juga sebab hati mungkin terbuat dari materi dari susunan zat zat yang memang berbeda.
Sementara tiba tiba aku temui diriku seperti orang kalah berlaga. Pecundang murung yang pulang tanpa menjinjing harta maupun senjata, lebih lebih kalungan bunga. Hanya seorang kalah yang payah! Berakhir di sebuah balok kecil, di bawah pohon ceri di sebuah sore yang cerah. Jadi apa benar ini babak reruntuhan ataukah sebuah helatan upara perjanjian berupa fase kecil demi dimulainya epos besar yang lain? Entahlah, asap rokok ini pun masih saja tak diam, meliuk, melingkar lingkar dan lantas lenyap. Terus saja begitu, dan begitu berkali kurasa.
Jombang, 16 November 05
  |
|
|
|
MIMPI KELAMMU
|
aku hidup dalam kesendirian yang dalam kesendirian yang sedimikian gegap dipenuhi kisah kisahmu yang kelam berpuluh puluh bintang aku rangkum dalam selimut malam dan kujahit sisi sisinya dengan batu batu kutempatkan di bawah kepala.
aku bermimpi tentang suatu masa bukan pagi atau senja bukan pula malam atau siang bagiku matahari tak lagi jadi petanda lantaran aku sendiri sudah diam bersamanya
kita bertemu kelak di sana masa dimana kisah kisahmu terbuka kau yang bicara! melukis pagi dan senja juga malam dan siang aku mendengarkanmu seraya merebahkan diri dengan harapan agar kau mengerti betapa kelam kisah kisahmu itu hingga mampu menenggelamkanku dalam kesendirian yang dalam
Malang, 5 maret 2006
  |
|
|
|
PETISI BURUNG BURUNG
|
Petisi ini lahir dari pertemuan burung burung Dan hutan tergetar oleh nyanyiannya Ketika restu langit telah pasti tiba Burung burung kembali ke sarangnya
Matahari telah di curi dari rumah kami Bulan pula tak pernah purnama lagi Segera siapkan bendera kita Besok tumpah kita serbu cakrawala
Siapa akan berjaga malam ini Burung hantu mengerdipkan matanya yang lebar Di mana alamat kelelawar sang penghuni sunyi Sudah lama kepaknya tak terdengar
Petisi ini sudah ditandatangani Burung burung telah siap menyongsong hari Malam ini dalam hati kita berjanji Kelak terbang merebut mimpi
Siapa tinggal Siapa akan mati Aku memilih bergabung Menjadi rajawali
Malang, 11 Maret 06
  |
|
|
|
HYMNE atas MARS
|
Sebegitu dalamnya resah ini, hingga menenggelamkan. Rusuh terasa batin dalam bening kesadaran. Aku berarak dengan jalan jalan, dengan ngarai, sungi kecil sejuk dan lautan. Aku nyanyikan di sepanjang jalan mars tentang kisah keberanian, meski di sini terdengar seperti hymne yang penuh sayatan. Aku pastikan cita cita tentang hari depan, hari depan yang kapan, katanya. Aku berjanji tentang harapan. Harapan serupa apa, cibirnya.
Sebegitu dalamnya kegembiraan ini, hingga memabukkan. Orang orang hadir dalam pesta perjamuan, dihidangi berbagai minuman dan makanan. Gadis gadis pelayannya molek dengan kain baju berrenda sulaman bunga warna ungu, mengerling setiap saat dengan palsu. Aku duduk di tonjolan tanah berbatu, tak jauh dari situ. Dengan jalan jalan, ngarai, sungai sejuk dan lautan. Memandang dengan hening, dengan resahku yang sedalam ilusi mereka akan keabadian. Hidup dan kehidupan betapa sungguh tak sepadan.
Malang, 11 Maret 05
  |
|
|
|
MANUSIA SENTOSA
|
Meringkik kuda manusia sentosa Kakinya mendepak batu batu Kemudian terangkat Manusia sentosa mengangkat pula pedangnya, Mengacungkan! Terlempar dari punggung kuda ia dan lebam Direjam batu batu
Manusia sentosa memburu hidupnya Mempertaruhkan yang tersisa Tangannya yang berpedang lunglai Tubuhnya terkulai
: entah malam akan sembunyikan lukanya buat ia sebentar terjaga!
  |
|
|
|
MANIFESTO LELAKI
|
Berlari kencang aku seorang remaja Di saat malam dan langit berpendar pendar Citra yang kusemangati dengan kembang api Di kala sebayaku tertidur dilelap mimpi
Maka aku menolak setiap mimpi Jika ia adalah merjan merjan belantara yang tak pasti Selimut rahasia tak mudah ditelanjangi Dan akan kuasah taring atas nama pagi
tidakkah kau ingin tidur, sayang?
Aku tak tunduk pada kesiasiaan Tidur adalah jedah peristirahatan Dan bukan penyerahan diri pada kegilaan
tapi hari sudah teramat larut malam!
Malam dan siang apa beda Ini tetap kamar sempit yang sama Matahari tak tidur juga bumi Aku adalah poros bagi diri; Pemantik atas setiap gejolak dan sunyi
sungguh keras kepala,seperti ayahmu...
Berlari kencang aku tak lagi seorang remaja Tubuh baja jiwa baja Ruhku diam dalam wujud yang tak diam Ruh yang bersemayam dengan kehendak tak pejam
Ia menjadi cahaya Bagi semesta badan yang setiap saat akan padam Maka aku menolak padam Tidur lelap dalam damai kebodohan
kau pula lelakiku, sayang!
dan tak lagi ingusan!
Malang, 14 des ‘05
  |
|
|
|
|