Friday, February 09, 2007 |
AKU PERNAH SENDIRIAN, KAWAN
|
aku pernah sendirian, kawan berjuta menit aku terpuruk di sini. Menyetubuhi keberadaan sendiri. Meloncat dari kata ke kata, untuk satu suku yang belum terselesaikan. Melambai-lambai. Langkah ini terkoyak tajamnya pisau. Menjadi hiasan di raga dalam hari. Aku sendirian. Kucoba menghitung helai helai sayapku yang berguguran diterpa racun menjadi kata-kata. sayap-sayap itu menghitam pekat.
Darah dan airmata menjadi kereta. Karena mereka yang kukenal berebut menciumi dan menjilati seluruh luka di tubuhku.
Yah, aku pernah sendirian kawan. Melang-lang di atmosfir kata dan sebentuk dunia tanpa suara. Menjerat dan mengumpulkan kata demi kata, menenunnya untuk sebuah makna, bukan untuk kematian dan keberadaan seperti yang mereka definisikan. Karena kukira itulah tugasku di hidup ini. Akulah nabinya. Kalau mereka lihat aku berada di ketakberartian yang kosong, kukatakan, mereka salah atau kalau tidak pastilah sedang berbohong. Sebab kesia-siaan yang mereka pahami sebetulnya perangkap yang telah menjerat diri mereka sendiri, hingga tersia-siakanlah mereka dengan penglihatannya itu.
Aku tak pernah pergi, karena kata-kata yang kurangkai belum membentuk bait puisi yang utuh. Jadi aku tak pernah mati, sebab bisa jadi berkali kematianku adalah kelahiranku untuk yang kesekian kali pula. Aku tak pernah tidur karena aku telah atasi waktu.
Aku pernah sendiri, kawan Mengisi laboratorium kata-kata Dalam ruang pengap yang dipenuhi mimpi dan janji-janji.
Malang, 26 desember 2003
|
|
0 Comments: |
|
|
 |
|
|
|
|
|