Friday, February 09, 2007 |
NURANI
|
Seperti katamu, pada suatu hari aku menyelesaikan tugas tugas ini. Tugas tugas yang penuh cacat bagi sementara kaum kita. Dunia telah menelan sejarahnya sendiri. Menjadi sebuah kota yang teramat terbuka. Kau aku dan mereka semua bisa saling membuka keburukan atau pamer kemulyaan. Tapi rahasia tetap bersembunyi dalam lorong lorongnya sendiri. Yah, lihatlah betapa banyak lorong lorong itu. Dingin dan lembab, batu batunya licin dan dipenuhi serangga yang akan menggigit jika mereka terinjak. Di kedalamannya, kita takkan tahan bernafas hanya melalui hidung, tapi musti membuka mulut, melebarkan kerja paru paru. Dan apakah yang hendak terasa di sana? Ialah sengatan gas yang mencemaskan, basah dan lantas menguap, mempercepat pacuan jantung kita.
Lorong lorong ini, ia memiliki arah dan celah celah lobang perantara yang banyak pula bercabang ke setiap arah. Saling berkelindan hingga bertemu sebagai suatu rangkaian lorong lorong. Benar, itu lorong yang sama. Lorong dimana tersembunyi rahasia rahasia kita. Apakah yang kita sembunyikan di sana, tahukah kamu? Hati nurani kita. Benar. Cahaya yang mustinya kita jadikan penuntun dalam membuka map semesta. Apakah kita menyembunyikannya di sana, di lorong lorong itu? Tidak. Tidak hanya menyembunyikan. Tapi memenjarakannya, sayangku...mengasingkan kebenaran yang sudah dianugerahkan dengan lembut dan penuh kepercayaan sebagai bekal kita untuk kembali pulang. Ataukah kita yang memang tidak menginginkan kepulangan itu? Tapi mungkinkah? Toh kepemilikan kita atas diri sendiri pun hanya sebatas kesemestaan lahir saat ini, bermula kelahiran hingga berujung pada kematian. Sesudahnya kita tak berpaut lagi dengan kehendak kehendak. Kita akan kembali pada hakekat ruhaniah kita. Sesuatu yang kita namakan Loji, Linh atau Abdur Rahman atau Viola sekarang ini mungkin di saat itu kita tak mengenalinya lagi. Loji itu hanya petanda saja dari sebuah ruh yang dilahirkan, dibadaniahkan selengkap yang kita punya saat ini. Diberi kehendak, nafsu, untuk melintasi sebuah mistar yang masih gelap di depan. Tapi ruh tak pernah lenyap, ialah yang akan abadi pada kurunnya, kembali pulang di saat yang juga gelap kita pandang lantaran mistar selalu saja gelap di depan. Tapi bukankah kita sama sama setuju bahwa itu akan terjadi? Lantas apa gerangan yang terjadi dengan ruh ruh itu? Kita kemanakan cahaya ruhani itu? Semestinya Kau tahu jawabnya, sayangku...
Yah, aku telah selesaikan tugas tugas ini, tapi belum seluruhnya. Aku bahkan baru memulai....
Malang, 28 febr ‘05
|
|
0 Comments: |
|
|
 |
|
|
|
|
|