Friday, February 09, 2007 |
KEPADA SAHABAT
|
Sahabat, ketika pagi terbit, saat itu pula aku sudah terbangun. Hanya saja aku memang tidak terburu beranjak, berusaha mengingat ingat lagi mimpi yang barusan saja terjadi, mereka reka adakah ia pantulan dari segala hal yang teralami serta jadi pengingat dan alasan bagi ku bangun hari ini. Ataukah mimpi adalah mimpi begitu saja...terpotong atau berdiri sendiri, berupa makhluk ganjil yang hidup di dunia bawah sadar kita dan tak hendak berurusan dengan hajat diri, di mana di dalamnya menyelubung Id dan super ego yang tak henti saling tarik dan bertikai.
Sahabat, ketika pagi terbit, karenanya aku tak bisa begitu saja beranjak demi mendamaikan antara aku dan diriku sendiri serta membuat semacam kesepakatan – setidaknya untuk sementara – bahwa apapun yang sedang berlaku adalah karena hidup tumbuh untuk disikapi, dan kita pun tumbuh menjadi kekuatan inti bagi kesadaran melakukan dan berarti.
Segala hal yang terjadi, terasa pahit atau manis, adalah citra citra yang memang niscaya disebabkan putar giling hati dan pikiran serta persentuhannya yang secara langsung kepada dunia luar yang sebenarnya tak an sich luar itu. Karena citra adalah milik kita sendiri, hadir dalam berbagai bentuknya, meski pada akhirnya akan tetap mewujud sebagai wakil dari spirit kesadaran terakhir yang konon telah kita miliki, kita pilih!
Sampai di sinilah aku berkalinya pula lantas dihasut oleh sebuah dorongan asing yang anehnya justru terasa begitu dekat kukenali. Setiap kali ia hadir, aku seperti dikejar sebuah kerinduan yang entah: mengapa tak berlaku seperti layaknya air. Mengalir dan lalu singgah atau bahkan berlabuh di tempat tempat yang ditakdirkan mengambil dan memilikinya?
Ah, serangan semacam ini biasanya sungguh mematikan. Tapi tahukah kamu, bahwa ternyata aku juga masih bertingkah layaknya seorang hero yang menguasai daerah pusat ketegangan,
“Aku bukanlah air!”
kemudian terdengar lagi menyusul suara lain dalam diriku menimpali dengan sinis,
“Lalu apakah gerangan kau ini? Batu?!”
Terkadang tak tahan aku melihat pertengkaran seperti ini. Apakah akan ada manfaatnya? Tapi begitulah, banyak hal naif terjadi – sesuatu yang pasti kaupahami. Terkadang pula ia membutuhkan jawaban ketus dan tanpa hati. Tapi di saat itu kita lakukan, buru buru pula rupa kenyataan itu membentur jidat dan melancarkan kritik pedas, bukankah semua yang berlangsung sudah naif sejak dari awalnya?! Nah, adakah jawaban semacam itu muncul sebagai manifest kesadaran pilihan ataukah memang melecut begitu saja sebagai reaksi tak terkontrol, sikap acuh tak acuh dan bahkan penenggelaman diri dalam stream yang kiranya paling mungkin menjadikan kita merasa tentram demi menautkan diri?
Ya. Begitu banyak tampaknya. Hal hal datang menghampiri, silih berganti, hingga tak jarang pula membuatku merasa seperti masih sedang berada dalam mimpi. Itulah kenapa juga seringnya aku merasa terlalu lama memikirkannya hingga tak sadar hari benar benar sudah terlampau terang untuk disebut pagi, persis seperti sekarang ini. Padahal hari ini aku sudah ada janji, menemuimu di tempat biasa seraya terus bertanya, adakah arti juga hadir di antara persahabatan ini?
Malang, 9 November 2005
|
|
0 Comments: |
|
|
 |
|
|
|
|
|