Friday, February 09, 2007 |
PERAHU PERANG
|
matahari nanar di puncak ketenangan jiwa yang murni
daun daun seperti membara telaga mendidih airnya angin berhembus menyengat dan detik detikku terbakar
di kala sedang pekurku dalam keheningan maka ia menjadi api yang berkobar dalam batinku tumbuh serupa binatang buas menyeringai dan mencakar
di saat sedang tegakku di altar persaksian maka ia menjadi kirapan gejolak bendera bendera yang berkobar
dalam batinku labuh selayak perahu perang tua yang berjuang sendiri di kejauhan samudra yang lepas menerjang dan terhempas silap di mata mercusuar
yang kucari adalah kebenaran dan kebenaran ada di sini aku tegak dan bertahan diam dan tenang
dan jika kausangka yang berlaku adalah kekosongan dan sia sia maka dengarkanlah: keyakinan tidaklah kosong dan kebenaran bukanlah sia sia!
matahari boleh saja tetap nanar daun daun yang membara telaga mendidih dan angin menyengat hembusnya dan jasadku bisa saja hangus dan terkapar tapi ketenangan jiwa adalah pantulan dari ruh ia akan terlahir kembali hingga beribu kali
api akan tetap berkobar menjadi nafas bagi binatang buas yang terus menyeringai dan mencakar
bendera akan terus berkibar menjadi petanda bagi perahu perang tua yang terus hidup dan melawan
karena binatang buasku adalah milik belantara hutan yang murni sebab perahu perang tuaku adalah penjaga kehormatan bagi hidup yang sejati
dan di kala senja hari menepi binatang buasku menuju jalan pantai di sana perahu perang tua telah menanti pulang ke peluk ibu kebenaran tenang dan tentram
|
|
0 Comments: |
|
|
 |
|
|
|
|
|